Selain cucaca ekstrim ini penyebab banjir yang melanda sumatera

0

Walhi menyebut bencana banjir bandang di Sumut disebabkan kerusakan ekosistem di wilayah hulu. Ada perusahaan tambang beroperasi di sana.

images (1)

Cuaca ekstrem pada Senin (24/112025) dan Selasa (25/11/2025) menyebabkan bencana di empat kabupaten di Sumatera Utara, meliputi Sibolga, Tapanuli Utara, Tapanuli Tengah dan Tapanuli Selatan.

Banjir yang melanda wilayah Tapanuli dan sekitarnya ini bukan merupakan kejadian baru di Sumatera Utara.

Dalam lima tahun terakhir, sejumlah wilayah seperti Deli Serdang, Mandailing Natal, Tapanuli Selatan, hingga Nias, berulang kali mengalami banjir dan longsor yang memakan korban jiwa.

Cuaca ekstrim di Sumut

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengonfirmasi bahwa cuaca ekstrem yang melanda sejumlah wilayah di Sumatera Utara dalam beberapa hari terakhir merupakan dampak langsung dari Siklon Tropis Senyar, yang sebelumnya dikenal sebagai Bibit Siklon Tropis 95B.

images4755356981347449379
Dok: banjir Sumatra

Wahana Lingkungan Hidup (WALHI) Sumatera Utara (Sumut) menilai, penyebab banjir bandang dan tanah longsor di Sibolga dan Tapanuli tidak bisa dilepaskan dari campur tangan manusia.

Manajer Advokasi dan Kampanye Walhi Sumut, Jaka Kelana Damanik, menolak anggapan bahwa bencana tersebut disebabkan hujan secara terus-menerus. Keterlibatan manusia juga ada.

Salah satu indikatornya adalah saat banjir terjadi, banyak kayu terbawa arus. Citra satelit juga menunjukkan hutan sekitar lokasi bencana sudah gundul.

Walhi Sumut meyakini, bencana banjir bandang dikarenakan dampak rusaknya ekosistem di wilayah hulu. Wilayah hulu sudah tidak mampu lagi menahan laju hujan dengan intensitas tinggi hingga terjadi banjir bandang.

Selain itu, berdasarkan kajian risiko bencana nasional 2022–2026, wilayah yang saat ini terdampak bencana masuk kategori risiko tinggi banjir bandang dan tanah longsor.

Bencana adalah pekerjaan rumah kita bersama

Untuk meminimalkan kejadian serupa di masa mendatang, masyarakat, pemerintah, dan pemangku kepentingan harus bekerja sama dalam beberapa hal berikut:

Penguatan fungsi hutan

  • Moratorium izin pembukaan hutan baru.
  • Penegakan hukum tegas terhadap pembalakan liar.
  • Reboisasi dan penghijauan di kawasan yang rusak.

Penataan ruang berbasis ekologi

  • Menghidupkan kembali fungsi daerah aliran sungai (DAS).
  • Melarang pembangunan di zona merah rawan longsor dan banjir.
  • Mengembangkan ekonomi alternatif yang tidak merusak lingkungan, seperti agroforestri atau pariwisata berbasis alam.

Transparansi dan akuntabilitas pemerintah

  • Pemerintah daerah perlu memberikan data terbuka terkait izin usaha di kawasan hutan.
  • Melibatkan masyarakat sipil dan organisasi lingkungan dalam proses pengawasan.

Kesimpulan

Bencana banjir bandang dan tanah longsor di Sibolga dan Tapanuli bukan sekadar akibat curah hujan tinggi, tetapi merupakan bencana ekologis yang dipicu oleh kerusakan lingkungan akibat aktivitas manusia. Temuan WALHI Sumatera Utara menjadi alarm keras bahwa pengelolaan lingkungan hidup harus menjadi agenda bersama. Hanya dengan kerja kolektif dalam menjaga hutan, menata ruang, dan menegakkan hukum, kita dapat mencegah bencana ekologis yang semakin sering dan mematikan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *