JAS MERAH: Pelajaran Turki Utsmani bagi Mahasiswa dan Pemuda di Tengah Gejolak Dunia

0
IMG-20260305-WA0053

Oleh: Ahmadi Saleh Hasibuan, S.Pd.

Padangsidimpuan, 05 Maret 2026 —Sejarah peradaban dunia memperlihatkan bahwa kejayaan suatu kekuasaan tidak lahir secara instan, dan keruntuhannya pun tidak terjadi dalam sekejap. Salah satu contoh paling monumental adalah Kesultanan Utsmaniyah yang berdiri sejak 1299 hingga 1922. Lebih dari enam abad lamanya kekaisaran ini mampu mempertahankan eksistensinya sebagai kekuatan politik, militer, dan peradaban dunia.

Didirikan oleh Osman I dan mencapai puncak kejayaan pada masa Suleiman the Magnificent, Utsmani dikenal memiliki sistem pemerintahan yang kuat, disiplin militer yang tinggi, serta tata kelola negara yang mampu mengakomodasi masyarakat multietnis. Namun perjalanan sejarah menunjukkan bahwa ketika integritas birokrasi melemah, konflik elit meningkat, serta ketertinggalan teknologi terjadi, maka perlahan imperium besar itu mulai rapuh hingga akhirnya runtuh setelah kekalahan dalam Perang Dunia I.

Kisah tersebut bukan sekadar catatan masa lalu, melainkan cermin bagi realitas dunia hari ini. Ketegangan geopolitik yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel dengan Iran menunjukkan bahwa dinamika kekuasaan global masih terus bergerak dalam pola konflik kepentingan yang kompleks.

Dalam konteks lokal, sejumlah pengamatan lapangan melalui diskusi mahasiswa dan komunitas pemuda di wilayah Padangsidimpuan dan Tapanuli Selatan menunjukkan bahwa pemahaman generasi muda terhadap sejarah peradaban dunia masih relatif terbatas. Sebagian besar mahasiswa dan pemuda hanya mengenal sejarah secara permukaan, bahkan lebih banyak memperoleh informasi melalui media sosial dibandingkan literatur akademik.

Fenomena ini menunjukkan adanya kesenjangan antara identitas intelektual mahasiswa dengan kedalaman literasi sejarah yang seharusnya menjadi fondasi berpikir kritis.

Menanggapi hal tersebut, Ahmadi Saleh Hasibuan, S.Pd., alumni dari Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan menilai bahwa mahasiswa dan pemuda harus kembali menghidupkan kesadaran historis dalam kehidupan intelektual.

Menurutnya, sejarah Turki Utsmani mengajarkan bahwa kekuatan suatu peradaban tidak hanya dibangun oleh kekuasaan politik atau kekuatan militer, tetapi juga oleh kualitas moral, intelektual, serta kesadaran kolektif masyarakatnya.

“Peradaban yang besar selalu lahir dari kesadaran sejarah yang kuat. Ketika masyarakatnya mulai melupakan sejarah, maka di situlah awal dari kemunduran sebuah peradaban,” ujar Ahmadi Saleh Hasibuan.

Ia juga mengingatkan pesan sejarah bangsa Indonesia yang dikenal dengan JAS MERAH – Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah, pesan yang pernah disampaikan oleh Soekarno.

Bagi Ahmadi, pesan tersebut memiliki makna simbolik bagi mahasiswa dan pemuda, khususnya bagi mahasiswa dari Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan yang identik dengan almamater berwarna merah.

“JAS MERAH bukan hanya slogan sejarah. Bagi kami alumni UMTS, warna merah pada almamater adalah simbol keberanian intelektual untuk mengingat sejarah, membaca zaman, dan menjaga kesadaran peradaban,” tegasnya.

Menurutnya, mahasiswa dan pemuda tidak boleh hanya menjadi penonton dalam arus sejarah global. Mereka harus menjadi generasi yang mampu membaca masa lalu dengan jernih, memahami konflik dunia dengan kritis, dan membangun masa depan dengan kesadaran intelektual yang matang.

Sebab pada akhirnya, sejarah bukan hanya tentang apa yang telah terjadi, tetapi tentang bagaimana manusia belajar agar tidak mengulangi kesalahan yang sama dalam perjalanan peradabannya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *