Menjaga Martabat Pers: Ismail Banda, Pena yang Berangkat dari Ilmu dan Pengabdian
Padangsidimpuan newsuin.com-Jumat, 13 Februari 2026
Sejarah pers Indonesia tidak hanya dibangun oleh redaksi dan mesin cetak, tetapi oleh pribadi-pribadi yang menjadikan pena sebagai amanah intelektual. Salah satu tokoh tersebut adalah H. Ismail Banda, wartawan, ulama, diplomat, dan pendiri Al Jam’iyatul Washliyah, yang jejak pengabdiannya terbentang dari ruang redaksi hingga panggung diplomasi internasional.
H. Ismail Banda lahir pada tahun 1910, putra dari Banda dan Sariani Aminah, berasal dari Kampung Sei Mati. Dalam perjalanan hidupnya, ia kemudian menetap di Medan Petisah, Kota Medan, sebuah wilayah yang pada masa itu menjadi pusat pergerakan pemikiran, pers, dan organisasi Islam.
Pembentukan intelektual Ismail Banda berlangsung di Maktab Islamiyah Tapanuli (MIT). Di lembaga pendidikan ini, ia tidak hanya menimba ilmu agama, tetapi juga aktif dalam perkumpulan diskusi dan debating club, sebuah tradisi akademik yang melatih keberanian berpikir, ketajaman analisis, serta kecakapan berargumentasi—fondasi penting bagi dunia jurnalistik.
Dalam catatan sejarah pers, Ismail Banda dikenal sebagai wartawan Pewarta Deli dan wartawan Surat Kabar Ikhsan. Melalui dua media ini, ia berperan menyampaikan informasi, membentuk opini publik, dan menyuarakan kepentingan umat serta bangsa. Pada masanya, pers adalah ruang perjuangan, dan Ismail Banda menjadikan tulisan sebagai sarana dakwah, pendidikan, dan kesadaran kebangsaan.
Selain aktif di pers, Ismail Banda juga berkiprah dalam organisasi. Ia pernah menjabat sebagai Ketua Pengurus Besar Al Washliyah pada tahun 1930, Ketua PERPINDOM (Persatuan Pemuda Indonesia dan Malaysia), serta terlibat dalam Persatuan Pelajar di Timur Tengah. Ia juga tercatat sebagai anggota Panitia Pusat Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) di Timur Tengah, sebuah peran strategis dalam sejarah perjuangan nasional.
Karier pengabdiannya kemudian meluas ke ranah negara. Ia pernah menjadi pegawai Departemen Agama di Yogyakarta, pegawai Departemen Luar Negeri di Jakarta, anggota Misi Haji Indonesia, staf perwakilan Indonesia di Iran, hingga dipercaya sebagai Kepala Perwakilan Indonesia di Arab Saudi dan Kuasa Usaha Negara Indonesia di Kabul, Afganistan. Seluruh peran tersebut dijalani dengan satu benang merah: ketertiban berpikir, etika komunikasi, dan tanggung jawab informasi.
Takdir kemudian mengakhiri pengabdiannya pada 22 Desember 1951, ketika pesawat yang ditumpanginya mengalami kecelakaan di Iran. Ismail Banda wafat di negeri perantauan dan dimakamkan di Teheran, jauh dari tanah kelahiran, namun dekat dengan sejarah pengabdian bangsa.
Bagi jurnalis dan wartawan masa kini, kisah hidup Ismail Banda adalah pelajaran penting bahwa jurnalisme tidak berdiri sendiri. Ia lahir dari ilmu, diperkuat oleh etika, dan diuji oleh keberanian moral. Di tengah era digital yang kerap meminggirkan kedalaman demi kecepatan, teladan Ismail Banda mengingatkan bahwa wartawan sejati adalah mereka yang menjaga martabat pers, bukan sekadar mengejar sorotan.
Dari Kota Padangsidimpuan, sejarah itu berbicara kembali: pena yang jujur, berilmu, dan berani akan selalu menemukan jalannya dalam peradaban.

