Refleksi Milad HMI ke-79 Tahun: Harapan HMI ke Depan
Oleh Fadil Muhammad Siregar Devisi Pendidikan & Pelatihan Khusus Bakornas LEPPAMI PB HMI Periode 2024-2026
Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) didirikan oleh Lafran Pane bersama 14 mahasiswa Sekolah Tinggi Islam (STI)—yang kini menjadi bagian dari Universitas Indonesia—pada 15 Rabiul Awal 1366 H. Kelahiran HMI tidak dapat dilepaskan dari konteks sejarah pergerakan mahasiswa di Yogyakarta saat itu, di mana wadah organisasi mahasiswa masih sangat minim dalam mengakomodasi aspirasi keislaman.
Kegelisahan itulah yang mendorong Lafran Pane dan kawan-kawan membentuk sebuah himpunan mahasiswa Islam yang tidak hanya menjadi ruang intelektual, tetapi juga penjaga nilai dan identitas keislaman di tengah dinamika bangsa yang baru merdeka. Sejak awal, HMI berdiri di atas dua tujuan utama:
pertama, mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI);
kedua, menegakkan dan mengembangkan ajaran agama Islam.
Dua konteks besar inilah yang menjadikan kehadiran HMI pada masa awal berdirinya memiliki manfaat yang sangat besar bagi umat dan bangsa. Namun pekerjaan berikutnya yang tidak kalah penting adalah bagaimana memastikan bahwa kuantitas kader HMI dapat berjalan linear dengan kualitasnya, sehingga kontribusi sumber daya manusia HMI tidak berhenti pada angka dan jumlah, tetapi berimplikasi langsung pada kemajuan bangsa, khususnya dalam menyongsong Indonesia Emas 2045. Tantangan ini menuntut keseriusan seluruh pengurus, mulai dari tingkat komisariat hingga Pengurus Besar, untuk menjadikan kaderisasi sebagai proses yang substansial, berkelanjutan, dan berorientasi pada kualitas.
Namun, waktu terus berjalan. Sejarah bergerak, zaman berubah. Maka benar adanya ungkapan: setiap zaman ada orangnya, dan setiap orang ada zamannya. Apa yang relevan di masa lalu tidak selalu bisa diterapkan secara mentah di masa kini. Oleh karena itu, tantangan besar HMI hari ini adalah mengkontekstualisasikan nilai dan tujuan awal pendiriannya agar tetap relevan dengan realitas sosial, politik, dan kebangsaan saat ini.
Tidak dapat dipungkiri, dinamika internal HMI belakangan ini diwarnai oleh konflik kepentingan dan irisan politik**. Di beberapa cabang, konflik tersebut bahkan melahirkan perpecahan yang cukup tajam. Fenomena “barisan yang menang tidak merangkul yang kalah” menjadi luka kolektif yang harus diakui secara jujur. Jika dibiarkan, kondisi ini berpotensi menggerus nilai persaudaraan, keikhlasan berjuang, dan semangat kaderisasi yang menjadi ruh HMI.
Milad HMI ke-79 seharusnya menjadi ruang refleksi bersama, bukan sekadar seremoni. Refleksi bahwa HMI adalah rumah besar, bukan milik kelompok tertentu. Refleksi bahwa perbedaan adalah keniscayaan, tetapi persatuan adalah keharusan. Dan refleksi bahwa HMI hanya akan besar jika kader-kadernya mampu menempatkan kepentingan organisasi dan umat di atas kepentingan pribadi maupun golongan.
Harapan ke depan, HMI yang semakin bertambah usia mampu melahirkan kader-kader yang berkualitas secara intelektual, matang secara emosional, dan kokoh secara spiritual. Kader yang tidak hanya piawai berdebat di forum, tetapi juga hadir sebagai solusi di tengah masyarakat. Kader yang tidak larut dalam konflik internal, tetapi fokus pada pengabdian dan perjuangan nilai.
Milad ke-79 bukan sekadar angka. Ia adalah pengingat bahwa HMI pernah besar karena idealisme, dan hanya akan terus besar jika idealisme itu dijaga. Semoga HMI ke depan mampu kembali pada khitahnya: menjadi kawah candradimuka kader umat dan bangsa, yang setia pada Islam, teguh pada NKRI, dan bijak dalam menyikapi perubahan zaman.
Milad HMI ke-79.
Yakin Usaha Sampai.
