Ayub Hasibuan dan Jalan Pengabdian
Padangsidimpuan newsuin.com- Minggu 15 Februari 2026. Ayub Hasibuan, S.Pd., bergelar adat Sutan Tagor Muda, adalah sosok pendidik yang tumbuh dari proses panjang, keras, dan sunyi. Ia merupakan putera asli Desa Bulu Sonik, Sibuhuan, Kabupaten Padang Lawas, dibesarkan dalam keluarga petani tulen yang menggantungkan hidup pada sawah dan kebun.
Kedua orang tua Ayub adalah petani. Ayahnya mengolah sawah dan kebun, dengan usaha kecil menjual minyak kusuk hanya sebagai tambahan penghasilan. Di luar kerja agraris, ayah Ayub dikenal religius, aktif dalam persulukan, dan memiliki hubungan spiritual dengan para tuan syekh di wilayah Padang Lawas. Ibunya pun petani sekaligus ibu rumah tangga yang tangguh, disiplin, dan sabar, sosok yang menjadi penopang utama kehidupan keluarga. Dari rumah sederhana itulah Ayub menyerap nilai kerja keras, kesahajaan, dan keteguhan iman.
Sejak remaja, Ayub dikenal giat belajar dan tekun membaca. Ketekunannya membawanya menempuh pendidikan tinggi dan mengasah kemampuan menulis serta berpikir sistematis. Ia tidak hanya menguasai disiplin akademik, tetapi juga memahami politik lokal dan adat-istiadat masyarakat Padang Lawas. Dalam berbagai kesempatan, Ayub dipercaya mengatur urusan adat dan tortor, bukan karena status formal, melainkan karena kecakapan dan integritas yang diakui lingkungan.
Sebelum menetap di Padangsidimpuan, Ayub mengabdi bertahun-tahun sebagai guru di Sigambal, Rantau Prapat. Fase ini membentuk ketahanan mentalnya sebagai pendidik lapangan. Setelah itu, ia merantau ke Padangsidimpuan dan membangun rumah tangga bersama Fatimah Sari Nasution, perempuan sederhana dari keluarga perantau. Ibunda Fatimah berasal dari Padangsidimpuan, sementara ayahnya berasal dari Pidoli, Panyabungan.
Kehidupan di Padangsidimpuan tidak serta-merta mudah. Di sela tugasnya sebagai guru hingga menyelesaikan pengabdian di SMKN 1 Padangsidimpuan, Ayub menjalani pekerjaan sampingan sebagai tukang becak. Setiap hari, sekitar pukul tiga dini hari, ia sudah berada di jalan, mengantar pedagang dan barang dagangan menuju Pasar Ucok Kodok Padangsidimpuan. Aktivitas itu dijalani tanpa rasa malu, sebagai bentuk tanggung jawab seorang kepala keluarga dalam membiayai rumah tangga dan pendidikan anak-anaknya.
Karier formal Ayub di dunia pendidikan dimulai sebagai guru honorer. Melalui karya tulis, sertifikat akademik, kecakapan administrasi, serta kinerja nyata sebagai guru sejarah, ia akhirnya direkomendasikan langsung oleh pimpinan sekolah untuk diangkat menjadi PNS. Pengangkatan tersebut lahir dari pengakuan atas kapasitas profesional, bukan dari kedekatan struktural.
Kepercayaan yang lebih besar datang ketika Ayub dipercaya memimpin SMPN 10 Padangsidimpuan. Saat awal kepemimpinannya, jumlah siswa hanya berkisar 200 hingga 300 orang. Melalui pembenahan manajemen, penguatan disiplin, dan pendekatan langsung kepada masyarakat, jumlah peserta didik meningkat signifikan hingga sekitar 600 orang siswa-siswi. Peningkatan itu menjadi indikator tumbuhnya kepercayaan publik. Pada masa kepemimpinannya pula, sekolah tersebut berhasil mencapai status Sekolah Berstandar Nasional, dan Ayub menerima penghargaan dari Presiden kala itu yakni Pak Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) atas kejujuran dan kinerja baiknya.
Ayub mengakhiri masa tugasnya sebagai Kepala SMPN 10 Padangsidimpuan pada 29 Februari 2012. Penugasan tersebut berakhir di tengah dinamika kepentingan dan gesekan kebijakan yang lazim dalam birokrasi pendidikan. Namun Ayub tidak menjadikan konflik sebagai panggung. Ia memilih kembali ke jalur pengabdian sebagai *guru pengawas di SMKN 1 Padangsidimpuan* hingga memasuki masa purnabakti.
Dari pernikahannya dengan Fatimah Sari Nasution, Ayub dikaruniai lima orang anak: Ummi Kalsum Hasibuan, Handa Akbar Hasibuan bergelar Tongku Handa Muda, Nur Asiah Hasibuan, Rizal Fahmi Hasibuan bergelar Tongku Naga Panjang,* serta Ahmadi Saleh Hasibuan bergelar Tongku Hasayangan. Dari mereka lahir cucu-cucu: Hanif dan Riski, Alif dan Ilham, Dzakir dan Sheza, serta Fahna.
Ahmadi Saleh Hasibuan, S.Pd. sebagai putera bungsu, menempuh jalur pengabdian yang berbeda namun berakar pada nilai yang sama. Lulusan S.Pd. dari Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan ini dikenal memiliki minat kuat pada dunia tulis-menulis, analisis sosial, dan kajian keadilan. Ia aktif berkolaborasi dengan insan pers dan mahasiswa, menempatkan diri sebagai penulis dan penggiat jurnalistik secara etik, meski tidak berstatus wartawan struktural. Dalam berbagai tulisan dan diskusi, Ahmadi konsisten menggunakan pena sebagai medium kritik dan refleksi, sebuah kesinambungan nilai dari Ayub muda yang dahulu bertarung dengan keterbatasan melalui pendidikan.

Kini, di usia tua kurang lebih 63 tahun, Ayub Hasibuan menjalani hidup yang lebih tenang. Hari-harinya diisi dengan berkebun, membibit tanaman, menjaga shalat lima waktu berjamaah, dan mendekatkan diri kepada Allah. Dari sawah, becak subuh, ruang kelas, hingga ruang kepemimpinan sekolah, Ayub meninggalkan keteladanan yang nyata pada para pendidik: bahwa martabat pendidik tidak ditentukan oleh jabatan semata, melainkan oleh nilai-nilai intelektual dan loyalitas yang diwariskan dan dijalani seumur hidup.
